Harga Logam Mulia Ambles Terus, Benarkah Kejayaan Emas Pudar?

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas di pasar spot dunia tampaknya mulai menunjukkan mulai jenuh menguat, setelah dalam 9 pekan dalam tren naik dan sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa.

Tanda-tanda pemulihan ekonomi tampaknya menjadi pematah semangat investor memburu logam mulia ini dalam beberapa hari ini.

Pekan pertama Agustus,harga emas mencapai rekor tertinggi pada level US$ 2.072,27/troy ons, tepatnya pada 7 Agustus 2020. Namun harga emas berangsur turun hingga hari ini, Selasa (25/8).

Secara akumulatif harga emas dunia sudah drop 6,76% ke level harga US$ 1.933,6/oz. Untuk saat ini harga emas masih belum mampu untuk menuju ke arah level tertingginya lagi.

Sementara itu, harga emas Antam setali tiga uang nasibnya dengan emas dunia. Sempat menyentuh rekor tertinggi di harga Rp 1.065.000/gram pada 7 Agustus 2020, tapi hari ini jika dihitung dari harga tertinggi sudah jatuh 4,13% ke harga Rp 1.021.000/gram.

Dalam 2 hari setelah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa, harga emas dunia langsung ambrol 5,72%. Kemudian emas mencatat penguatan dalam 4 dari 5 perdagangan setelahnya hingga kembali ke atas US$ 2.000/troy ons, tetapi ambrol lagi 4% pada Rabu (19/8/2020) lalu.

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, emas berada di level US$ 1.939,4/troy ons.

Pergerakan tersebut menunjukkan emas masih kesulitan untuk bertahan di atas US$ 2.000/troy ons, apalagi untuk kembali melaju kencang. Melansir Kitco, beberapa analis menyebut emas kini masuk fase konsolidasi.

Namun, analis-analis tersebut juga melihat fase konsolidasi ini merupakan koreksi sehat emas setelah terbang tinggi di tahun ini, dan bagus untuk outlook penguatan emas jangka panjang.

Fase konsolidasi artinya emas akan bergerak naik turun dalam rentang harga tertentu dalam beberapa waktu lamanya. Pada satu titik, fase konsolidasi dapat memicu pergerakan besar jika menembus batas atas atau bawah fase konsolidasi.

Untuk saat ini, batas fase konsolidasi masih belum terlihat jelas, tetapi ada kemungkinan batas bawah berada di kisaran US$ 1.860/troy ons dan batas atas di US$ 2.000/troy ons.

Ole Hansen, kepala strategi komoditas Saxo Bank mengatakan dolar AS yang perlahan kembali menguat akan menjadi faktor penekan harga emas yang signifikan dalam jangka pendek.

“Kami melihat posisi jual (short) dolar AS ada di level ekstrim dan posisi tersebut saat ini mulai menurun. Hal itu membuat posisi bullish emas juga akan menurun dalam jangka pendek,” kata Hansen sebagaimana dilansir Kitco, Minggu (23/8/2020).

Koreksi emas yang cukup dalam bisa terjadi jika batas bawah fase konsolidasi berhasil dilewati. Analis dari TD Securities, Daniel Ghali, melihat koreksi harga emas akan mencapai 17% atau sekitar US$ 300, melihat momentum penguatan emas mulai memudar.

Meski demikian, Ghali menyatakan saat koreksi selesai, maka harga emas akan kembali melesat.

Harga emas pertama kali mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, terjadi pada September 2011 di harga US$ 1.920.3/troy ons.

Saat itu, kondisi perekonomian AS serta kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menjadi “aktor” utama dibalik pergerakan emas ke rekor tertinggi sepanjang masa, dan juga yang akan memicu kemerosotan, baik itu dulu maupun sekarang.

Di tahun 2008, Amerika Serikat mengalami resesi, yang memicu krisis finansial global. Guna membangkitkan perekonomian, The Fed memangkas suku bunga hingga 0,25%, dan menggelontorkan stimulus moneter dengan program pembelian aset (obligasi pemerintah dan surat berharga lainnya) atau yang dikenal dengan istilah quantitative easing (QE).

Emas Bisa ke Level US$ 4.000/Oz

Foto: Emas Antam (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Pagi ini, pada pukul 08.55 WIB, harga emas dunia di pasar spot menguat 0,08% ke US$ 1.933,6/troy ons. Untuk saat ini harga emas masih belum mampu untuk menuju ke arah level tertingginya lagi.

Emas masih berpeluang untuk reli lagi, terutama jika terjadi pelemahan terhadap dolar greenback dan koreksi di pasar saham. Pagi ini indeks dolar yang mengukur mata uang dolar AS di hadapan enam mata uang lainnya turun 0,1% ke 93,208.

Pergerakan harga logam mulia emas dan dolar AS memang berbanding terbalik. Ketika dolar AS menguat maka yang terjadi justru sebaliknya terhadap harga emas.

“Penguatan harga emas kemungkinan akan terakselerasi, menurut hemat kami, terutama karena fundamental makroekonomi yang mendukung saat ini dan emas emas akan bergerak periode rendahnya pada 2013-2018” kata ahli strategi komoditas senior Bloomberg Intelligence Mike McGlone dalam catatan terbarunya pada Agustus, mengutip Kitco News.

Setelah melampaui rekor di tahun 2011 pada US$ 1.920/troy ons harga emas yang sempat reli sembilan pekan beruntun terus mencetak rekor tertinggi barunya dalam sejarah. Namun kebangkitan dolar AS dan aksi ambil untung sempat menekan harga emas.

“Emas masih berada di tahap awal untuk kembali ke pasar bullish yang terjadi kurang lebih 20 tahun silam dalam pandangan kami” tulis McGlone.

“Krisis keuangan dan program pelonggaran kuantitatif (QE) oleh bank sentral membuat logam ini bakal menguat dan kami melihat kesamaan yang mungkin lebih bertahan lama saat ini. “

Ada potensi harga emas bisa menyentuh level US$ 3.000/troy ons jika mengacu pada skenario Bloomberg Intelligence.

“Grafik kami menunjukkan adanya potensial kenaikan harga emas di pasar spot ke US$ 3.000 per ons vs US$ 1.770 pada 26 Juni, jika mengikuti trayek kenaikan aset di neraca bank sentral G4 terhadap PDB-nya. Bank sentral terus mencetak uang untuk mendorong inflasi adalah fondasi yang kokoh untuk benchmark store of value”

“Titik terendah emas di sekitar US$ 700 pada 2008 dan mencapai puncak di dekat US$ 1.900 pada 2011. Dengan kecepatan yang sama hingga 2,7x dari level terendahnya tahun ini di US$ 1.470, maka harga emas bisa sentuh US$ 4.000 pada 2023.” ungkap McGlone kepada Kitco News.



Leave a Reply