Emas Dekati US$ 1.900/US$ dan Balik Naik, Waktunya Beli Nih?

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia berhasil menguat tipis pada perdagangan Selasa kemarin, setelah sempat mendekati level US$ 1.900/troy ons. Ambrolnya bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street menjadi pemicu berbaliknya harga logam mulia ini.

Melansir data Refinitiv, harga emas dunia kemarin menguat 0,11% ke US$ 1.930,92/troy ons setelah sebelumnya sempat merosot 1,17% ke US$ 1.906,23/troy ons.

Sementara pada hari ini, Rabu (9/9/2020), pada pukul 16:06 WIB emas melemah tipis 0,03% ke US$ 1.930,34/troy ons.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) yang “berdarah-darah” kemarin membuat emas berbalik arah. Aksi jual yang terjadi di sektor teknologi memicu kejatuhan bursa dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia tersebut. Indeks Nasdaq ambrol 4,11%, S&P500 -2,78% dan Dow Jones -2,25%.

Emas merupakan aset aman (safe haven) sementara saham merupakan aset berisiko, sehingga pergerakan keduanya berlawan arah dalam jangka pendek.

“Kita melihat bangkitnya harga emas setelah bursa saham AS merosot yang memicu aksi beli aset safe haven. Investor sedang bingung, mereka tidak tahun di mana level dasar pasar saham saat ini,” kata Philip Streible, kepada ahli strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago, sebagaimana dilansir CNBC International, Selasa (8/9/2020).

Meski demikian, bangkitnya dolar AS membatasi penguatan harga emas. Indeks dolar AS makin menjauhi level terendah dalam lebih dari 2 tahun terakhir setelah menguat 0,78% kemarin, dan pagi ini sempat naik 0,18% ke 93,615 yang menjadi level terkuat nyaris 1 bulan terakhir.

“Emas sedang terperangkap dalam rentang perdagangan yang sempit. Jika mampu menembus US$ 1.960/troy ons, emas baru akan kembali memasuki tren naik,” kata Streible.

Sejak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, US$ 2.072,49/troy ons 7 Agustus lalu, emas berbalik merosot, dan tidak pernah lagi kembali ke atas level US$ 2.000/troy ons. Emas juga bergerak dengan volatilitas tinggi, artinya naik-turun secara signifikan dalam waktu singkat, beberapa pekan terakhir.

Namun beberapa hari terakhir volatilitas emas cenderung merendah dan harganya menurun, tetapi masih mampu bertahan di atas US$ 1.900/troy ons.

Cuma sekali saja pada 12 Agustus lalu, emas merosot hingga ke US$ 1.863,66/troy ons, tetapi di hari yang sama juga bangkit dan mengakhiri perdagangan di US$ 1.917,81/troy ons. 

Sejak saat itu, emas tidak pernah lagi menyentuh US$ 1.900/troy ons, setiap kali mendekati level tersebut emas kemudian berbalik naik.

Oleh sebab itu, Eugen Weinberg, kepala komoditas di Commerzbank, mengambil sikap netral terhadap emas.

“Banyak yang perlu dicerna pasar. Periode konsolidasi bisa berlangsung dalam waktu yang cukup lama tanpa mempengaruhi tren jangka panjang. Saat ini, saya tidak melihat sesuatu yang readyviewed bisa membawa emas naik ke atas US$ 2.000/troy ons, ataupun ke bawah US$ 1.900/troy ons,” kata Weinberg sebagaimana dilansir Kitco, Jumat (4/9/2020).

Artinya, ketika mendekati US$ 1.900/troy ons emas akan naik lagi, sementara ketika mendekati US$ 2.000/troy ons maka emas kemungkinan akan kembali turun.

Ada Peluang Beli di Dekat US$ 1.900/Troy Ons, Tapi….

Foto: Pengrajin Perhiasan Emas (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Secara teknikal, level US$ 1.900/troy ons berpotensi menjadi bottom (dasar) bagi harga emas. Tetapi tetap ada risiko emas terjun bebas.

Hal ini terlihat dari terbentuknya pola Descending Triangle pada grafik harian. Batas bawah pola ini berada di kisaran US$ 1.900/troy ons, sementara titik tertingginya di US$ 2.072. Sehingga lebarnya pola Descending Triangle (garis hijau) sebesar US$ 172.

Jika batas bawah pola ini di kisaran US$ 1.900/troy ons ditembus secara konsisten, emas berisiko turun tajam selebar Descending Triangle (US$ 172). Artinya, target penurunan jika batas bawah tersebut ditembus yakni di US$ 1.728/troy ons.

xauGrafik: Emas (XAU/USD) Harian
Foto: Refinitiv

US$ 1.900/troy ons merupakan level psikologis, sehingga perlu tenaga yang ekstra agar bisa mampu menembus dengan konsisten. Hal ini diperkuat dengan indikator Stochastic yang mendekati wilayah jenuh jual (oversold). Sehingga ketika emas turun ke US$ 1.900/troy ons, stochastic kemungkinan akan mencapai wilayah oversold.

Kombinasi batas bawah pola Descending Triangle, kemudian level psikologis, serta Stochastic yang akan oversold menjadikan US$ 1.900/troy ons sebagai bottom bagi emas.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Jadi, jika US$ 1.900/troy ons gagal ditembus dengan konsisten, emas berpeluang rebound, dan tidak menutup kemungkinan memecahkan rekor tertinggi lagi.

TIM RISET CNBC INDONESIA



Leave a Reply